Olimpiade Seoul 1988, 3 Srikandi Yang Membawa Nama Harum Indonesia - Ghazi Archery Indonesia

Olimpiade Seoul 1988, 3 Srikandi Yang Membawa Nama Harum Indonesia

3 minggu yang lalu    

Olimpiade musim panas ke-24 diadakan pada tahun 1988 di Seoul, Korea Selatan. Seoul terpilih pada pemilihan tahun 1981, mengalahkan kota Nagoya di Jepang. Olimpiade ke-24 diadakan di Seoul dan beberapa kota besar di Korea Selatan dari tanggal 17 September sampai 2 Oktober 1988. Rakyat Korea Selatan berpartisipasi untuk menyukseskan acara tersebut. Olimpiade ini menjadi pusat perhatian seluruh dunia dikarenakan 2 perayaan olimpiade sebelumnya diboikot. Olimpiade ke-22 di Moskow diboikot oleh banyak negara termasuk Korea Selatan dan Amerika Serikat, sebagai protes atas invasi Uni Soviet terhadap Afghanistan. Negara-negara blok Soviet membalas dengan tidak ikut berpartisipasi dalam Olimpiade ke-23 yang diselenggarakan di Los Angeles, Amerika Serikat. Olimpiade Seoul menjadi perayaan olahraga terbesar di dunia pada saat itu dalam jumlah atlet yang berpartisipasi dari kedua blok serta memainkan peran penting dalam mendekatkan negara-negara di kedua belah pihak.

Acara ini juga berfungsi sebagai ajang untuk menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa Korea Selatan, negara yang memiliki khazanah budaya dan tradisi telah menjadi contoh kesuksesan industrialisasi yang telah dilaksanakan sejak tahun 1960-an dan telah mencapai demokratisasi sukses dengan upaya rakyat. Dalam Olimpiade ini, warga Korea Selatan ikut berkontribusi dengan cara bekerja sebagai sukarelawan untuk membantu wisatawan asing. Lambang resmi dari Olimpiade ke-24 adalah Taegeuk, simbol nasional Korea Selatan, sedangkan maskotnya adalah Hodori: seekor harimau Korea.

Tanggal 1 Oktober 1988, tiga srikandi pepanah, Nurfitriyana Saiman Lantang, Lilies Handayani dan Kusuma Wardhani meraih medali perak panahan beregu di Olimpiade Seoul. Mereka mempersembahkan medali pertama bagi Indonesia dalam ajang olimpiade. 

Momen bersejarah tersebut dicapai oleh Nurfitriyana-Lilies-Kusuma melalui proses yang tidak mudah. Mereka menggapai kejayaan setelah ditempa dengan latihan keras dibimbing pelatih Donald Pandiangan. 9 panah terakhir yang menjadi alat terciptanya sejarah medali perdana olimpiade bagi Indonesia. Berikut saya ceritakan detil bagaimana proses Nurfitriyana-Lilies-Kusuma menjadi runner upberegu panahan putri Olimpiade Seoul.

Sumber : Kompasiana.com




Komentar Artikel "Olimpiade Seoul 1988, 3 Srikandi Yang Membawa Nama Harum Indonesia"